Pages

Sabtu, 10 Mei 2014

Belajar Editing Adobe Premier Pro CS 3

A.     Editing  

Editing termasuk sebuah tahapan pasca produksi dalam proses menghasilkan sebuah karya video atau media audio visual, baik itu untuk keperluan pertelevisian (broadcasting) maupun keperluan sinema (film/movies). Terdapat banyak sekali
software (perangkat lunak) untuk mengolah sebuah pepaduan gambar (montase gambar) sehingga kemudian hal itu ditentukan oleh selera dan penguasaan user (pengguna) itu sendiri.
Golongan  software  terakhir  termasuk  golongan  software  dengan  sebutan  pro yang  merupakan  kependekan  dari

professional. Software-software tersebut membutuhkan spesikasi komputer yang tinggi (ukuran relatif), yang paling tidak membutuhkan vga ekternal 128MB (diluar vga onboard yang ada pada motherboard), ram minimal 1GB untuk OS XP (2GB untuk OS Windows 7), dan processor minimum pentium 4 dengan Socket LGA 775 2,0 GHz keatas. Hal tersebut untuk semakin “mempercantik output (hasil keluaran) dan menghaluskan jalannya editing. Spesifikasi yang rendah pada komputer bisa menyebabkan komputer lag (nge-hank) dan hasil yang tidak memuaskan (cenderung gelap/redup serta noise). Software-software ini biasanya digunakan oleh golongan para professional di bidang pertelevisian maupun perfilman, dan software tersebut adalah :


B.      MENSETTING PROJECT

Berikut interface dari Adobe Premiere Pro versi CS3 ketika usai di-klik shortcut-nya.




Kemudian pilih new project, secara default setingannya sebagai berikut :

Pilih DV-PAL (720x576; 25 fps) Standard 48kHz. Setingan ini merupakan standar resolusi dalam keping DVD untuk wilayah Indonesia.
(catatan : User boleh saja memilih setingan yang lain, yang harus dipastikan adalah apakah ketika proses syuting user menggunakan camera widescreen atau tidak. Hal ini beralasan karena nantinya jika lensa yang dipergunakan wide (1024:768) sementara apabila kita menseting project dengan setingan PAL Square (720x576), maka akan didapat hasil bahwa video kita akan menjadi gepeng (memanja ng secara vertikal), atau dengan kata lain sehingga terlihat lebih tinggi atau tidak proporsional. Sementara apabila jika lensa atau setingan kamera pada setingan square, sementara user menseting project di premiere dengan DV-PAL (720x576; 25 fps) Widescreen 48kHz maka akan didapat hasil bahwa video kita akan meninggalkan bekas hitam di kedua sisi kanan-kirinya).

Simpan file project yang akan segera dibuat pada direktori yang dikehendaki. Kemudian memberi nama yang sama untuk nama project yang akan segera dibuat. Karena yang akan dibuat berbentuk film (dalam komputer atau proyektor), bukan video yang akan ditampilkan di televisi, maka langkah selanjutnya adalah pilih Custom Settings–General untuk merubah Field menjadi No Field (Progressive Scan) Maka tampilannya akan menjadi seperti berikut :


Selanjutnya pilih sub menu Capture dari menu Costum Settings, pilihannya harus menunjukkan DV Capture jika menggunakan

mini DV, kecuali menggunakan resolusi yang jauh lebih besar, yakni HDV (High Definition Digital Video).




Kemudian pada sub menu Video Rendering, centang pilihan Maximum Bit Depth untuk memaksimalkan ketajaman hasil akhir pada video ketika dirender, dan Optimize Stills untuk memaksimalkan gambar diam (still images) agar tidak goyang.


Pada sub menu Default Sequence, secara default akan menunjukkan kurang lebih sama dengan tampilan berikut. Penulis hanya merubah jumlah track mono yang ditampilkan dari 0 menjadi 3. Hal ini agar sound-sound yang nantinya di-insert-kan pada proses editing menjadi semakin mudah, karena biasanya (berbeda dengan lagu atau musik)  sound-sound tersebut tidak akan support jika dimasukkan ke dalam track stereo. Jika selesai klik OK. 



Gambar 6. Interface dari Adobe Premiere Pro CS3 ketika masuk ke menu Default Sequence



Setelah menekan tombol OK, maka  Adobe Premiere Pro CS3 menjadi seperti berikut:



workspace adobe premier




0 komentar:

Posting Komentar