A. Editing
Editing termasuk sebuah tahapan pasca produksi dalam proses menghasilkan sebuah karya video
atau media audio visual, baik itu untuk keperluan pertelevisian (broadcasting)
maupun keperluan sinema (film/movies). Terdapat banyak sekali
software (perangkat lunak) untuk mengolah sebuah pepaduan gambar (montase gambar) sehingga kemudian hal itu ditentukan
oleh selera dan penguasaan user (pengguna) itu sendiri.
Golongan software terakhir termasuk golongan software
dengan sebutan “pro”
yang
merupakan
kependekan
dari
professional. Software-software
tersebut membutuhkan spesikasi komputer yang tinggi (ukuran relatif), yang paling tidak membutuhkan vga ekternal 128MB (diluar vga onboard yang ada pada motherboard), ram minimal 1GB untuk OS XP (2GB untuk OS
Windows 7), dan processor minimum pentium 4 dengan Socket LGA 775 2,0 GHz keatas.
Hal tersebut
untuk semakin
“mempercantik” output (hasil keluaran)
dan
menghaluskan jalannya editing. Spesifikasi yang rendah pada komputer bisa
menyebabkan komputer lag (nge-hank) dan hasil yang tidak memuaskan (cenderung gelap/redup serta noise). Software-software ini biasanya digunakan oleh golongan para professional di bidang pertelevisian maupun perfilman, dan software tersebut adalah :
B. MENSETTING PROJECT
Berikut
interface dari Adobe Premiere Pro versi CS3 ketika usai di-klik shortcut-nya.
Kemudian pilih new project, secara
default setingannya sebagai berikut :
Pilih DV-PAL (720x576;
25 fps) Standard 48kHz. Setingan ini merupakan
standar resolusi dalam keping DVD untuk
wilayah Indonesia.
(catatan : User boleh saja memilih setingan yang lain, yang harus dipastikan adalah apakah ketika proses syuting user menggunakan
camera widescreen atau tidak. Hal ini beralasan karena nantinya jika lensa yang dipergunakan wide (1024:768) sementara apabila kita
menseting project dengan setingan PAL Square (720x576), maka akan didapat hasil bahwa video kita akan menjadi gepeng (memanja ng
secara vertikal), atau dengan kata lain sehingga terlihat lebih tinggi atau tidak proporsional. Sementara apabila jika lensa atau setingan
kamera pada setingan square, sementara
user menseting project di premiere dengan DV-PAL (720x576;
25 fps) Widescreen 48kHz maka akan didapat hasil bahwa video kita akan meninggalkan bekas hitam di kedua sisi kanan-kirinya).
Simpan file project yang akan segera dibuat pada direktori yang dikehendaki. Kemudian memberi nama yang sama untuk
nama
project yang akan segera dibuat. Karena yang akan dibuat berbentuk film (dalam komputer atau proyektor), bukan video yang akan ditampilkan di televisi, maka langkah selanjutnya adalah pilih Custom Settings–General untuk
merubah Field
menjadi No Field (Progressive Scan) Maka tampilannya akan menjadi seperti berikut :
Selanjutnya pilih sub menu Capture dari menu Costum Settings,
pilihannya harus
menunjukkan DV Capture jika menggunakan
mini DV, kecuali menggunakan resolusi yang jauh lebih
besar, yakni HDV (High Definition Digital Video).
Kemudian pada sub menu Video Rendering, centang pilihan Maximum Bit Depth untuk memaksimalkan ketajaman hasil akhir
pada video ketika dirender, dan Optimize Stills untuk memaksimalkan gambar diam (still
images) agar tidak goyang.
Pada sub menu Default Sequence, secara default akan menunjukkan kurang lebih sama dengan tampilan berikut. Penulis
hanya merubah jumlah track
mono
yang ditampilkan dari 0 menjadi 3. Hal ini agar sound-sound yang
nantinya di-insert-kan pada
proses editing menjadi semakin mudah, karena biasanya (berbeda dengan lagu atau musik) sound-sound tersebut tidak akan support jika dimasukkan ke dalam track stereo. Jika selesai klik
OK.
Gambar 6. Interface dari Adobe
Premiere Pro CS3 ketika masuk ke menu Default Sequence
Setelah menekan tombol OK, maka Adobe Premiere Pro CS3 menjadi seperti berikut:


0 komentar:
Posting Komentar